Rabu, 26 Mei 2010

Makalah Keterampilan Menyimak (2 SKS)

 

MENYIMAK PERGESERAN BUDAYA

TENTANG PERILAKU HEDONISME

DI LINGKUNGAN REMAJA

MAKALAH TUGAS KETERAMPILAN MENYIMAK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 


Disusun Oleh :

TAUFIQURROHMAN

092074224

PNA 2009

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

TAHUN 2010

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Seraya memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena penulis menyadari bahwa berkat rahmat dan hidayatnya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Menyimak Pergeseran Budaya Tentang Perilaku Hedonisme Di Lingkungan Remaja”.

Makalah ini disusun dalam rangka tugas mata kuliah keterampilan menyimak, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya. Sehubungan dengan tersusunnya makalah ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kelancaran dalam menyelesaikan karya tulis ini, kepada oarng tua yang selalu memberikan dukungan atas terselesainya makalah ini dan teman-temanku yang membantu baik secara langsung atau tidak langsung.

Mudah-mudahan amal dan jasa baik mereka diterima oleh Allah SWT, dan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, amin. Dan semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi penulis dan bagi pembaca pada umumnya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahannya, oleh karena itu, kritik dan saran para pembaca akan penulis diterima dengan senang hati demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.

 

 

Surabaya, 28 Maret 2010

 

 

Penulis

 

 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR.......................................................................................1

DAFTAR ISI.......................................................................................................2

 

BAB I : PENDAHULUAN................................................................................3

a.      Latar Belakang......................................................................................3

b.     Tujuan....................................................................................................3

c.       Permasalahan.......................................................................................3

 

BAB II : PEMBAHASAN.................................................................................4

A.    Remaja Hedonis..................................................................................4

B.     Tinjauan Sejarah.................................................................................8

C.    Hedonisme di Lingkungan Mahasiswa.........................................8

D.    Solusi Apa yang dapat Ditawarkan...............................................10

 

BAB III : PENUTUP.........................................................................................13

a.      Kesimpulan...........................................................................................13

 

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................14

  

 

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

 

a. Latar Belakang

Kalau kita berkenan untuk sejenak berhenti dari  kesibukan akademis atau aktivitas perkuliahan, baik kalau kita lebih kritis untuk mengamati kecenderungan perilaku kaum muda remaja yang tentunya menarik untuk dipikirkan bersama. Semakin pesatnya tren kapitalisme tertentu maka pertumbuhan kwantitatif tempat-tempat hiburan dan pusat-pusat perbelanjaan semakin berkembang bak jamur dimusim hujan. Fenomena tersebut secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi budaya dan pola hidup kaum muda sekarang.

Banyaknya permasalahan dan krisis yang terjadi pada masa remaja ini menjadikan banyak ahli dalam bidang psikologi perkembangan menyebutnya sebagai masa krisis. Pada masa ini perubahan terjadi sangat drastis dan mengakibatkan terjadinya kondisi yang serba tanggung dan diwarnai oleh kondisi psikis yang belum mantap.

 

b. Tujuan

-  Makalah ini dapat menjadi acuan dalam pemahaman tentang penyimpangan

    perilaku remaja zaman sekarang dan pergeseran budaya dizaman globalisasi ini.

-  Dapat mengetahui dampak negatif dari perkembangan budaya.

-  Menjadi renungan kita semua khususnya kaum remaja.

-  Belajar untuk menyimak keadaan sekitar kita.

 

c. Permasalahan

Pada masa remaja, terdapat banyak hal baru yang terjadi, dan biasanya lebih bersifat menggairahkan, karena hal baru yang mereka alami merupakan tanda-tanda menuju kedewasaan. Dari masalah yang timbul akibat pergaulan, keingin tahuan tentang asmara dan seks, hingga masalah-masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatangan sosial yang berlaku di sekitar remaja.


BAB II

 

PEMBAHASAN

 

 

A. Remaja Hedonis

Masa remaja adalah masa yang penuh dengan tantangan, Pengaruh faktor lingkungan dan teman sebayanya sangat menentukan dalam pola prilaku seorang remaja. Hal ini sangat beralasan karena dalam proses menemukan jati diri, seorang remaja lebih banyak berkaca pada hal-hal yang ada diluar dirinya dan keluarga. Jadilah ia lebih banyak bergantung kepada faktor lingkungan dan teman-teman sebayanya. Pengaruh orang-orang terdekat yang selama ini dirasakan mulai berkurang atau ditinggalkan.

 

Keinginan untuk dihargai atau dianggap ada oleh rekan-rekan sebayanya sangat kuat dalam diri seorang remaja. Oleh karena itu berbagai cara dilakukan untuk menjadikan dirinya diakui sebagai anggota kelompok atau komunitas teman sebayanya. Dan tidak sedikit dari cara-cara tersebut mengarah kepada hal yang negatif.

 

Seorang remaja yang hanya duduk diam dan terbengong-bengong di dalam rumah belum tentu ia merasa suka dan senang, justru perasaan hampa, perasaan kesepian dan lain-lain sebagainya yang justru akan dihadapinya, ia akan dijauhi oleh teman sebayanya. Remaja demikian akan melewatkan masa remajanya dengan penuh kesepian. Remaja yang hanya diam dan duduk dirumah saja mungkin ia bisa saja terbebas dari pengaruh pergaulan yang tidak menguntungkan. Tetapi, bukankah remaja tidak bisa hidup sendiri? dan tidak bisa pula menyendiri terus-menerus?. Namun jika ia bersama teman-temannya belum tentu juga akan mendatangkan kebaikan?. Bukankah banyak contoh kejelekan dan keburukan yang dialami akibat pergaulan? mulai dari kebebasan seksual, minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba, yang semuanya biasa terjadi dalam pertemanan, persahabatan dan pergaulan.

 

Kebebasan seks tersebut bergumul dengan kebebasan-kebebasan lain seperti, mengkonsumsi obat-obat terlarang, terperosok ke dalam hingar bingar musik dan dunia hiburan, mengkonsumsi bacaan-bacaan yang justru meliarkan fantasi, imajinasi, dan hayali mereka. Apa yang kemudian terjadi dengan para remaja adalah hilangnya kesadaran akan nilai-nilai yang selama ini mereka pegang. Hilangnya kesadaran akan nilai-nilai yang dipegang bertambah ketika kepentingan musuh-musuh Islam masuk. Tak pelak pula, budaya popular dan budaya massa menjadi perpanjangan tangan bagi musuh-musuh Islam untuk membinasakan remaja muslim.

 

Tawaran-tawaran industri budaya popular dan budaya massa memang sangat menarik bagi remaja, sehingga para remaja tidak sempat lagi untuk berpikir bahwa semua itu hanyalah akan menambah kehidupan remajanya semakin terpuruk Terjadilah kebiasaan - kebiasaan seperti pergaulan bebas tanpa memandang lawan jenis, tidak peduli lagi bahwa pacaran tidak di benarkan dalam agama, tidak peduli bahwa seks diluar nikah merupakan perbuatan terlaknat. Semua ini telah memalingkan para remaja dari upaya untuk menjaga diri dan kehormatan. Terlebih lagi bagi seorang remaja muslim yang terjebak pada berbagai kebebasan tersebut tidak hanya akan merugikan dirinya di dunia ini, melainkan juga kelak di akhirat.

 

Remaja harus tahu bahwa ada mesin-mesin yang sangat besar terus menerus bergerak dan berputar-putar, mesin ini kasat mata, mempunyai bagian-bagian yang mempesona, terus-menerus berproduksi, dan semakin lama gerak dan putarannya semakin cepat. Apa yang dihasilkan oleh mesin ini mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisik jasmani dan memanfaatkannya berarti mendapatkan kepuasaan. Namun demikian mesin ini menjadi ancaman yang begitu mematikan bagi para remaja ketika mereka tidak siap mengkonsumsi hasil-hasil mesin ini, inilah mesin yang mampu memberikan kepuasaan, sekaligus mampu menggilas kehidupan mereka. Mesin-mesin inilah yang disebut sebagai mesin-mesin hedonisme.

 

Salah satu ungkapan yang sering yang menjadi panutan bagi remaja hedonis adalah berikut "kecil bahagia, muda berfoya-foya, tua kaya raya, dan mati (maunya) masuk surga". Segala hal yang berbau kesenangan, kemewahan, kenikmatan, dan kepuasaan, jika bisa semuanya ingin dipenuhi. Sebagian lagi berpikir bahwa hidup ini hanya sekali dan setelah itu mati sehingga hidup ini harus benar - benar di nikmati . Na'udzubillah.

 

Adapun hasil pengamatan tentang  ciri-ciri remaja hedonistis yaitu :

 

- Sering murung dan kurang bergairah bila disuruh harus bekerja keras atau

  berkorban.

- Tetapi ia sekaligus terlalu semangat bila berhadap-hadapan dengan yang

   enak-enak dan yang nikmat-nikmat.

- Gampang pusing dan susah tidur kalau baru melihat barang-barang yang bagus.

- Sangat sensitif menangkap di mana ada pesta-pesta, kegembiraan-kegembiraan,

   kesenangan- kesenangan.

 

Demikianlah sekelumit ciri-ciri remaja yang hedonistis yang timbul karna adanya dorongan internal yang muncul dari dalam dirinya yang ketiadaan-kuasannya untuk mengekang dan mengendalikan naluri dan hawa nafsu, maka sikap dan tingkah laku hedonistis memang disorong oleh munculnya mesin hedonisme, mesin inilah yang menambah keliaraan naluri dan hawa nafsu, sehingga seorang remaja yang terjebak perilaku hedonistis tidak mempunyai kendali diri.

 

Remaja harus tahu merekalah yang menjadi target utama produksi mesin- mesin hedonisme. Dalam beberapa tahun terakhir ini budaya popular sangat merasuki para remaja dari jenis hiburan baik yang ditampilkan media televisi maupun media cetak yang lebih banyak melambungkan angan-angan remaja, dan menisbatkan diri sebagai presentasi dari kehidupan remaja modern. Mesin-mesin hedonisme benar-benar hanya tahu bahwa para remaja akan mampu menjadi penikmat, pemuja, dan pembeli produk-produk yang ditawarkannya. Sehingga para remaja menjadi generasi tanpa punya rasa malu, dan menjadi muda-mudi yang kehilangan sopan santun. Yang lebih mementingkan kesenangan sesaat, padahal hidup mereka masih panjang dan tantangan hidup makin kompleks, dan moral para remaja akan rusak, akhlak akan menjadi rusak, harga diri tergadaikan dan kesucian terdistorsi.

 

Remaja harus tahu bahwa agama tidak melarang untuk memenuhi hasrat-hasrat naluri, dan memenuhi dorangan nafsu. Satu-satunya hal yang dilarang adalah meliarkan hasrat-hasrat naluri dan memuaskan dorongan-dorongan hawa nafsu.

 

Pola hedonis di kalangan remaja jika dibiarkan akan sangat berbahaya bagi masa depan dirinya maupun masa depan Islam. Disini remaja harus pandai-pandai menyingkapi budaya hedonisme. Remaja harus mampu mengerem dan mengontrol diri agar naluri dan hawa nafsunya terkendali.

 

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi remaja untuk memahami dirinya sendiri, memahami problem-problem besar yang telah, sedang dan akan dihadapinya, sebab perjalanan kehidupannya masih panjang. Ingatlah bahwa apa yang terjadi di masa tua merupakan cerminan bagi apa yang terjadi dimasa muda.

 

Yang menjadi pertanyaan bagaimana menjadi remaja yang rajin beribadah kepada Allah SWT tanpa kehilangan saat-saat penuh romantika dan kebahagian di kala masa remaja? Berikut ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para remaja muslim :

 

1. Semakin meningkatkan kualitas diri, yakni menyangkut bagaimana upaya untuk melesatkan citra diri seorang remaja muslim yang kaffah, dengan terus mengamalkan ajaran Islam sebagiamana tercermin dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. mendidik diri sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi

 

2. Menjadi cerdas dan bijak dalam menghadapi problem-problem besar yang melingkupi kehidupannya. Remaja muslim harus bisa "tampil beda", yakni beda dalam keyakinan dan cara pandang terhadap problem-problem tersebut.

 

Dengan dua hal tersebut, seorang remaja muslim tidak hanya akan mendapatkan keshalihan semata, melainkan juga kecerdasan dan kebijakan dalam menghadapi setiap persoalan-persoalan di masa yang akan datang. Wallahu ‘Alam

Ilustrasi di awal tulisan ini hanyalah sekelumit deskrispsi yang membuktikan eksistensi kecenderungan dalam diri manusia modern. Masih banyak contoh-contoh lain sebagai hasil dari globalisasi. kaum muda remaja dewasa ini lebih suka membaca komik atau main game daripada harus membaca buku-buku bermutu. Bacaan dengan analisis mendalam dan novel-novel bermutu hanya menjadi bagian kecil dari skala prioritas mereka, bahan-bahan bacaan seperti itu hanya tersentuh jika terpaksa atau karena tuntutan akademis.

 

Anda dapat mengelak bahwa gejala-gejala ini merupakan bentuk adaptif dari kemajuan zaman. Tapi, itu adalah rasionalisasi. Sebenarnya, kecenderungan manusia sekarang bukan hanya sekedar masalah mengikuti perkembangan zaman melainkan hal ini adalah masalah gengsi dan penghayatan hidup.

 

Bukti yang paling mengena adalah televisi, berbagai acara televisi semakin hari semakin jauh dari idealisme jurnalistik, bahkan semakin melegalkan budaya kekerasan, instanisasi, dan bentuk-bentuk kriminalitas. Sebagian tayangan-tayangan tersebut hanya semakin mendangkalkan sifat afektif manusia. Tayangan mengenai bencana alam, kemiskinan, perang, kelaparan, penemuan teknologi, pembelajaran budaya, dan lain sebagainya telah membuat sisi afeksi manusia tidak peka terhadap hal tersebut. Tidak ada proses batin dan intelektual lebih lanjut. Penghayatan nilai-nilai luhur semakin tereduksi.

 

Eksistensi kaum muda remaja hanya ditempatkan pada pengakuan-pengakuan sementara, misalnya seorang remaja dianggap eksistensinya ada jika remaja tersebut masuk menjadi anggota geng motor, menggunakan baju-baju bermerek, dugem, melakukan seks bebas, minum-minuman keras, dan lain sebagainya. Eksistensi kaum muda remaja hanya dihargai sebatas kepemilikan dan status semata. Jika pendangkalan ini terus dipelihara dan dibudidayakan dikalangan remaja kita, makna dan penghargaan terhadap insan manusia semakin jauh. Dapat kita simak hasilnya yaitu menghilangnya penghargaan terhadap manusia lainnya, misalnya: perang, pemerkosaan, komersialisasi organ tubuh, perdagangan anak, tawuran, dan lain-lain. Contoh-contoh ini menjadi indikasi kehancuran sebuah kebudayaan yang dimulai dari pergeseran nilai-nilai budaya di kalangan kaum muda remaja kita. Dampak yang sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan!

 

B. Tinjauan Sejarah

Hedonisme sebagai istilah yang menunjukan paham kesenangan berasal dari kata Hedone yang berarti kesenangan. Dalam kamus Bahasa Indonesia, Hedonisme berarti  pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

 

Di dalam sejarah filsafat yunani kuno, tokoh filsuf yang pertama memperkenalkan hedonisme adalah Democritus (400-370 SM), yang memandang kesenangan sebagai tujuan pokok di dalam hidup. Kendatipun yang dimaksud bukanlah hanya sekedar kesenangan fisik saja, melainkan kesenangna fisik sebagai alat perangsang bagi berkembangnya intelektual manusia. Epicurus (341-270 SM), sebagai tokoh masa Hellenisme, ia lebih mempunyai argumen yang lebih rinci mengenai hedonisme. Baginya kesenangan tetap menjadi sumber norma, tetapi tidak sekedar meliputi kesenangan jasmaniah semata-mata, sebab kesenangan ini, terutama yang terlalu berlebihan akhirnya akan menimbulkan rasa sakit pula. Banyak makan enak terkadang akan menimbulkan sakit perut, begitu juga banyak melakukan hubungan seksual akan menyebabkan kelelahan yang luar biasa. Senang bagi Epicurus bermakan tidak adanya rasa sakit di dalam badan dan tidak adanya kesulitan kejiwaan. Sehingga puncak Hedone menurut Epicurus adalah ketenangan jiwa.

 

C. Hedonisme di Lingkungan Mahasiswa

Mahasiswa sebagai generasi calon penerus bangsa tentu sedikit banyak sangat di harapkan mampu memberikan yang terbaik untuk bangsa ini, lalu apa yang dapat diberikan oleh seorang mahasiswa apabila ia pun masih belum menyadari apa yang dilakukannya sehari-hari adalah salah satu permasalahan yang harus di tangani.

 

Ketika mau menyimak di berbagai lingkungan mahasiswa di daerah, sering kita mendapat kabar, baik lewat televisi, koran, majalah dan lain-lain, mahasiswa yang tertangkap sedang melakukan pesta miras, atau melakukan hubungan seksual. Sepertinya hubungan seks di lingkunngan mahasiswa sekarang ini merupakan sebuah hal yang biasa terjadi dan tidak perlu di permasalahkan. Ada beberapa kasus yang secara langsung maupun tidak langsung saya perhatikan, di suatu Universitas di daerah Jawa Barat, sering sekali saya mendengar peristiwa hamil di luar nikah yang hasil dari hubungan seks di lingkungan mahasiswa. Bahkan hubungan pribadi seperti pacaran rasanya tidak sah apabila hanya sekedar peluk-pelukan oleh karena itu hubungan seks hanya dianggap sebagai hal yang biasa di saat berhubungan pacaran. Ironisnya dalam suatu peristiwa yang secara langsung saya sendiri megetahuinya, seorang mahasiswa perempuan dan laki-laki berhubungan pacaran telah biasa melekukan hubungan seks seperti halnya seseorang yang telah bersuami istri, lebih parahnya lagi di saat hubungan pacaran itu berakhir tidak ada rasa penyesalan sama sekali di kedua belah pihak terutama dari pihak perempuan yang seharusnya merasa telah kehilangan kehormatanya bahkan pihak perempuannyalah yang mengakhiri hubungan pacaran tersebut tanpa mempertimbangkan apa yang telah terjadi di saat mereka berhubungan pacaran layakanya hubungan suami istri yang sah. Secara tidak langsung meskipun ini hanya sebagai satu contoh saja, kita bisa menyimpulkan dari hasil menyimak di atas bahwa ternyata hubungan seks di lingkungan mahasiswa merupakan hal yang biasa saja saat berhubungan pacaran.

           

Peristiwa hubungan seks diluar pernikahan baik di lingkungan mahasiswa ataupun bukan, semakin di dukung dengan banyaknya praktik dokter aborsi, yang mana apabila dari hubungan seks di liuar pernikahan tersebut menghasilkan seorang janin, dokter aborsilah datang seperti seorang malaikat yang akan memberikan sebuah pertolongan agar janin tersebut tidak sampai hidup di dunia ini, apabila janin tersebut memang tidak diharapkan untuk hadir dalam kehidupannya. Akhir-akhir ini kita di guncangkan dengan berita telah di temukannya tempat praktik aborsi disebuah dareah di Jakarta yang sudah praktik lebih dari 2 tahun, tentu dengan peristiwa tersebut kita dapat mengambil kesimpilan bahwa hubungan seks diluar nikah ini telah menjadi hal yang biasa, dan melakukan aborsi di saat dari hubungan seks tersebut menghasilkan janin maka itu menjadi pilihan yang terbaik tanpa memperdulikan resiko yang akan di dapat setelahnya.

 

Hubungan seks memang merupakan sebuah kesenagan, tetapi disaat hubungan tersebut di praktikan bukan pada waktu dan tempatnya akan berakibat sebuah rasa sakit yang sangat menyakitkan baik terhadap jasmani terutama rohani. Pemahaman kata hedonisme atau kesenangan di saat ini jauh dari harapan yang di maksud oleh Epicurus, yang telah saya paparkan bahwa menurutnya kesenangan ialah ketenangan jiwa.

 

Hubungan seks, siapapun dan dimanapun manusia berada pasti ingin merasakannya, terkecuali ada hal-hal yang di luar kendali seperti halnya mempunyai gangguan kejiwaan dalam masalah seks, dan tentu itu sangat jarang sekali terjadi. Tetapi saat hubungan seks tersebut telah di praktikan bukan pada waktu dan tempatnya kebanyakan yang terjadi bukanlah kesenangan yang diharapkan yang akan datang tetapi masalahlah yang akan datang menghampiri. Dan ini telah keluar dari jalur paham hedonisme yang ditawarkan oleh tokoh-tokoh filsuf yunani seperti Epicurus, karena saat hubungan seks yang tadinya diharapkan akan memberikan sebuah kesenangan tetapi akhirnya akan menimbulkan masalah yang akan menyebabkan tidak adanya ketenangan jiwa ini telah keluar dari apa yang di maksud Epicurus yang mengharapkan dari kesenangan tersebut akan melahirkan ketenangan di dalam jiwa.

 

Hedonisme di lingkungan mahasiswa saat ini merupakan fenomena paham prilaku yang khas negara berkembang. Perilaku tanggung dalam menangkap modernitas sebagai nilai. Simbol modernitas ditangkap sebagai barang jadi dan tidak memahami proses yang tejadi yang mendahuluinya. Simbol-simbol lahiriah seperti arsitektur rumah, pusat-pusat perbelanjaan modern, tempat-tempat hiburan modern, makanan modern, tekhnologi modern, gaya hidup modern, itu harus meniru bangsa modern dan itu identik dengan dunia barat. Tentu saja, di sisi yang lain, apa saja yang berbau “tradisional” meskipun itu milik kita sendiri yang seharusnya menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi negeri kita ini dianggap ketinggalan jaman dan harus ditinggalkan, kalau bisa secepatnya dimusnahkan agar tidak ada lagi di negeri ini, hanya untuk sekedar mendapatkan sebutan sebagai negara yang modern.

 

Sesungguhnya persepsi tersebut, telah merusak di semua lapisan masyarakat tidak terkecuali lingkungan mahasiswa yang nota benenya seorang pelajar. Kasus yang terjadi seperti hubungan seks yang sudah dianggap sebagai hal yang biasa saat ini, kasus tersebut merupakan salah satu fenomena hedonisme generasi muda dari sekian banyak yang lain yang terjadi di berbagai lapisan masyrakat. Keinginan yang berlebihan terhadap modernitas ini sepeti ingin memiliki barang-barang yang mewah, kehidupan dunia modern yang setiap sabtu malam datang untuk melaksanakan ibadah rutinan di bar-bar, diskotik dan sebagainya., itu dijadikan sebagai suatu kebutuhan yang dianggap sebagai suatu kewajiban yang harus dipenuhi dan kalau tidak terpenuhi maka mendapatkan dosa karena dianggap masih menjadi manusia tradisional atau mahasiswa tradisional yang kerjanya hanya belajar, membaca, diskusi, kajian, dan sebagainya.

 

D. Solusi Apa yang Dapat Ditawarkan

Secara realita maupun logika, untuk menghilangkan sama sekali dorongan pemuasan kebutuhan jasmani adalah tidak mungkin. Saya yakin dari kalangan lapisan masyarakat manupun apabila di berikan pertanyaan seperti demikian pasti akan menjawab pula seperti halnya yang telah di paparkan diatas yaitu tidak mungkin untuk dihilangkan sama sekali. Sebab jasmaniah pula merupakan landasan penting untuk kesempurnaan hidup manusia. Tetapi seperti halnya yang telah di katakan Democritus, kesenangan fisik (jasmani) sebagai alat perangsang bagi berkembangnya intelektual manusia. Dalam arti tidak semata-mata hanya kesenangan jasmani saja yang kita harapkan tetapi dari hasil kita menikmati kesenangan jasmani tersebut kita dapat menghasilkan yang lebih yakni ketenangan jiwa.

 

Salah satu solusi yang kiranya saya dapat tawarkan adalah, dengan cara menyaring terlebih dahulu segala sesuatu yang dikatakan bersifat modern yaitu dengan kita memahami modern itu sendiri dan menumbuhkan kembali hukum-hukum yang bersifat tradisional, sehingga kita bisa benar-benar mengerti dan dapat menilai antara segi baik dan buruknya yang akan timbul dari hal tersebut. Misalkan hubungan seks di luar pernikahan yang marak terjadi di Indonesia ini umumnya, apabila kita dapat benar-benar bisa mengerti apa yang akan kita dapatkan dari sebuah hubungan seks di luar pernikahan terutama dikalangan mahasiswa terlebih apabila terjadi di lingkungan siswa SMA ataupun SMP. Hampir dapat dipastikan akan memberikan jawaban itu tidak dapat dibenarkan meskipun kita bertanya terhadap pelakunya sendiri. Hukum-hukum tradisional yang terkadang kita selalu melupakannya ternyata sangat memiliki arti yang sangat penting untuk mencegah gaya hidup hedonisme yang berlebihan. Dalam hukum tradisional, kita telah mengetahui bahwa hubungan seks di luar pernikahan itu tidak dapat di benarkan apalagi di nilai dari sudut pandang agama, di dalam agama manapun sejauh yang saya ketahui tidak ada satupun agama yang dengan jelas memperbolehkan hubungan seks diluar pernikahan. Seandainya hukum tradisional seperti diatas bisa di terapkan oleh orang tua terutama sejak dini mungkin perilaku seks diluar hubungan pernikahan tersebut bisa di bendung.

 

Ada sebuah istilah yang menyatakan bahwa apabila kita ingin melihat masa depan maka lihatlah generasi mudanya. Sekarang apa yang kita bisa harapkan untuk masa depan jika sekarang kita melihat generasi muda kita sudah sangat sulit diharapkan termasuk mungkin saya sendiri sebagai penulis ini. Maka dari itu patut lah kita semua, merasa perlu untuk membangun sebuah masa depan yang cerah dengan cara kita membangun generasi muda terlebih dahulu yang mampu diharapkan untuk menciptakan masa depan yang cerah tersebut. Untuk menciptakan sebuah generasi muda yang mampu diharapkan untuk masa depan tentu itu memerlukan kerja keras dan kerja sama dari berbagai lapisan masyarakat, berbagai kalangan organisasi pemuda, organisasi mahasiswa, berbagai lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan tak terkecuali agama dan pemerintah. Semua harus bekerja sama walaupun itu terasa sulit untuk dilakukan tapi sekiranya masih ada jalan untuk menggapainya, kenapa tidak kita untuk mencobanya. Modernisasi memang sulit untuk kita bendung tetapi kita pun tidak harus berdiam saja menikmati itu semua. Tetapi kita harus bisa menggiring arus modernisasi tersebut agar dampak yang timbul tidak terlalu berakibat buruk bagi kita semua.

 

Mahasiswa sebagai generasi yang sedikit banyak sangat diharapkan untuk kemajuan masa depan bangsa, rasanya patut menjadikan dirinya sebagai penggerak untuk menghadapi arus modern ini.

 

Menghadapi realita yang seperti ini, dan jika kita pertahankan budaya yang seperti ini maka selamanya seseorang tersebut akan hanyut dalam kesenangan belaka yang hanya akan banyak mengajarkan dampak yang buruk baginya. Bahkan jika sikap hedonis teraplikasi sebagai hasil mutlak pandangan dalam suatu Negara, maka niscaya Negara tersebut akan mengalami kemunduran dalam hal apapun. Selayaknya kita harus mengadakan perubahan. Yaitu dengan merubah paradigma hedonis menjadi paradigma keilmuan, dan juga membiasakan diri untuk bersikap apa adanya dan menghargai segala bentuk karunia Tuhan yang telah kita dapatkan dengan semangat bersyukur karena semua ini adalah keutamaannya.

 

BAB III

 

PENUTUP

 

 

Kesimpulan

 

Sebenarnya hedonisme, dewasa ini telah mengalami pergeseran makna atas pemahaman masyarakat menjadi suatu konsep yang hanya berorientasi kepada materi. Hedonisme adalah suatu bentuk teori pemahaman yang berorientasi kepada kesenangan. Karena orientasinya adalah kesenangan, maka secara otomatis para hedonis akan menjauhi segala bentuk tindak tanduk yang hanya akan membuat kesenangan yang diraihnya menghilang. Tetapi sejalan dengan hukum kausalita/sebab akibat, maka adanya hedonisme tidak mungkin lebih awal dari usaha peraihan kesenangan itu. Prosentase dari hasil sikap hedonisme ini lebih banyak mengantarkan penganutnya kepada keduniawian belaka yang mana hanya akan mendapatkan kelelahan atas bentuk mempertahankannya akan tetapi tidak bernilai secara moral.

Kita sebagai generasi penerus bangsa sudah sepantasnya untuk menjaga harkat dan martabat bangsa. Ketika sebuah negara itu ingin maju maka para generasi mudanya harus produktif sesuai bidangnya masing-masing. Oleh karena itu kita harus pandai-pandai untuk menyikapi lingkungan dalam pergaulan yang penuh dengan warna. Bentengi diri dengan agama yang kuat.tetap gaul dan syar’i. 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Kamidjan. 2006. Ketrampialan Menyimak . Surabaya : FBS Universitas Negeri

Surabaya.

Guntur Tarigan Henry. 2008. Menyimak Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung :

Angkasa.

www.google.com/gaya-hidup-hedonisme-seks-di-lingkungan.html

www.google.com/remaja-hedonis.html

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

boleh usul, tapi gak boleh asal