Sabtu, 04 Juni 2011

Notulen Rapat Baksos

NOTULEN RAPAT

Agenda Rapat Baksos Ke-3

Kebun Bibit

  1. Menjelaskan latar belakang baksos
  2. Perkembangan personil tiap kampus
  3. Rencana kedepan persiapan baksos

  1. Absen kehadiran

No.

Nama

Kampus

1.

Taufiq

Unesa Lidah

2.

Dedy

Unesa Lidah

3.

Khusnul

Unesa Lidah

4.

Riris

Unesa Lidah

5.

Indah

Unesa Lidah

6.

David

Unesa Ketintang

7.

Anas

ITS

8.

Rofik

ITS

9.

Fariza

ITS

10.

Taufik

ITATS

11.

Arip

ITS

  1. Masalah SDM

Solusi, dibutuhkan komitmen di semua lini kampus.

Pendataan ulang perkampus,

Dibentuk koordinator untuk pendataan, memaksimalkan 2010, SDM berpotensi.

  1. Pembagian ranah kerja/ PJ KEGIATAN

PJ : ANAS (ITS)

KETUA : TAUFIQ (Unesa)

SEKERTARIS : RATIH (Unesa)

BENDAHARA : RACHMA (Unesa)

ACARA : Unesa LIDAH (MB RIRIS)

HUMAS + KEAMANAN : ITS (FARIS)

PEREKAP+TRANSPORTASI : Unesa KETINTANG (DAVID )+ ITS (DANANG)

KONSUMSI : UNAIR (ARINDA)+ Unesa (TIRTA)

PUBDEKDOK : Unesa KETINTANG (DAVID)

KORLAP : ITS (SUBAN)

  1. KONSEP KEGIATAN

PELAKSANAAN : TANGGAL 29-31 JULI 2011

TEMPAT : PADAS (ROFIK)

ADMINISTRASI : SURAT PENYURAT, PROPOSAL,(RACHMA+RATIH)

  1. Jobdis tiap Sie

PJ

Menghubungi koordinator tiap kampus

Meminta laporan dan menjadikan pertimbangan dari ketua

  1. Juni pekan 2 dan 3

Sekertaris, menyelesaikan proposal dan surat menyurat

Bendahara, menyusun rencana pemasukan dan pengeluaran dana

Acara, menyusun konsep acara, teknis

Humas, menghubungi terkait tempat dengan pihak terkait

Mendata terkait sponsor

Perlengkapan, mendata yang dibutuhkan dan memfikskan perlengkapan akan

dibutuhkan

Konsumsi, menyusun estimasi kebutuhan logistik

Pubdekdok, publikasi di fb

Menyusun kebutuhan publikasi, dekorasi, dokumentasi.

Korlap, mengkoordinir semua panitia

  1. Bertemu kembali.

Tanggal : 19 Juni 2011

Pukul : 09.00-12.00

Tempat : Kebun Bibit

Agen yang di bahas,

1) Laporan perkembangan tiap sie

2) Fiksasi struktur kepanitiaan

3) Menentukan rencana selanjutnya

4) Ramah tamah

  1. Pesan untuk kawan-kawan tiap kampus

· PJ tiap sie segera mengadakan rapat/koordinasi sesuai dengan ranah kerjanya, bersama dengan rekan kampusnya yang sudah di plot-plotkan sesuai PJ tiap kampus.

· Kemudian kawan-kawan di tiap sie diminta segera bergerak/bekerja sesuai dengan ranah kerjanya dengan batas akhir ketentuan waktunya yaitu dua pekan kedepan/Juni pekan ke dua dan ketiga.

· Memperhatikan dan mengagendakan diri untuk hadir dalam rapat lanjutan tanggal 19 Juni 2011 sesuai yang telah disepakati. (dalam hal ini PJ bertanggung jawab penuh atas kedatangan personilnya masing-masing)

“Arek Forsmawi Berbagi Di Ngawi”

By, Forsmawi Surabaya

Minggu, 20 Maret 2011

Ustadzku Nikah Rekk (Doa Rabitah)

Ustadzku Nikah Rekk (Doa Rabitah)

Taufiqurrohman

Minggu, 20 Maret 2011

Persiapan panitia

My Club (Muslim Youth Club) sekeluarga pekan ini sangat bahagia, karena kenapa? Yak betul-betul, karena kedua pembina kita akhirnya sebentar lagi akan dipersatukan dalam ikatan yang suci dan halal. Ustadz Nailul dan Ustazah Qory mengikat janji suci, seia sekata, sehidup sepenanggungan (bukan sehidup semaput, kayak janji orang yang sedang pacaran saja). Diawali dengan pembentukan panitia resepsi pernikahan dari teman-teman My Club. Pembagian job dis dan pj masing-masing. Kebetulan kebagian PJnya tim Nasyid dan dokumentasi. Siap komandan!

Tepat hari Minggu, 20 Maret 2011 walimahan dimulai. Bertempat di Jl. Brawijaya, Kedungkwali, Gang VII, Nomor 17, Mojokerto yaitu di kediaman Bapak Mahmuda bapak dari Mbak Qory. Kebetulan Taufiq dan Fajar ditugasi untuk berangkat sabtu malam, karena harus membantu untuk dekorasi. Tetapi anehnya ketika sampai di Mojokerto bukan membantu untuk dekorasi malah diminta untuk menemani mempelai laki-lakinya (Pak Nailul). Bukan karena apa-apa sebetulnya kita ingin membantu untuk dekorasi, tetapi ternyata sudah ditata dari pihak persewaan set pernikahan. Apa boleh buat, dari pada menganggur kita menemani Pak Nailul saja, karena beliau sendirian. Masak mantene lanang ditinggal dewean? Gak tego rekk. He he he...

Malam menjelang pernikahan

Akhirnya berempat kami berangkat di kediaman pamannya Mbak Qory. Di sana kami mengatur strategi untuk terjun di medan jihat besuk. Kenapa saya bilang medan jihat? Kan nikah itu sama dengan berjihat. Bukan begitu bukan? Untuk mencairkan suasana dan meredam ketegangan kami bercakap-cakap dan menyelesaikan lis acara. Sedikit guyonan khas Pak Nailul, beliau bilang, “eh awakku kok gak penak ya? Hawane panas karo ngreges ngenei, lapo ki” padahal waktu itu hawanya tidak panas bahkan dingin. Kemudian Mas Suradi (sebagai mc besuk) menanggapi, “yo jelas rekk, hawane wong sing ape nikah ya panas, gregesi, gopo ngunu”. “Ooo iya mas mungkin grogi tu”, kata ku menimpahi pembicaraan mereka berdua, sedangkan teman satuku lagi (Fajar) sudah tergeletak pulas dikarpet merah tebal. Sambil mengeluarkan kitab tebal yang berisi tentang dunia berumah tangga Pak Nailul memulai guyonan lagi. Katanya, “Sakjane sesuk iki acarane sapa ta?”. Dari perkataannya sungguh gaya dan bernada kemlinti kata orang kulonan. Dengan nada memprofokasi Mas Suradi menanggapinya, “ayo muleh wae wis, gak sido dadi mc. Sing nduwe gawe gak ngawai”. Ha ha ha... kemudian kita bertiga tertawa lirih tanpa diikuti Fajar yang sudah mendahului strat.

Malam itu benar ada hal yang berbeda dari Pak Nailul. Yang menunjukkan gelagat aneh seorang ikhwan menjelang pernikahannya. Yang panas dingin, gerah, pusing, dsb (dan saya bingung). Memang butuh ketenangan batin dan kekuatan mental orang yang sudah memutuskan untuk menikah. Orang menikah itu memang harus matang dalam segala hal. Matang dari fisiknya, mentalnya, materinya, ilmunya, pengetahuannya, dll. Dan malam itu kami tutup dengan doa sebelum tidur. Dengan harapan besuk fisik bisa 100% dan siap.

Akhat nikah

Pagi-pagi kami panitia mempersiapkan tempat untuk akhat nikahnya. Yaitu di dalam mushola yang ada di samping tempat resepsinya. Menyiapkan meja dengan dihias taplak batik, bunga, dan tulisan-tulisan kaligrafi. Tepat selesai mempersiapkan mempelai laki-lakinya datang dan kamipun sedikit ngobrol dengan beliau untuk menemani juga. Hari ini Pak Nailul tampak ganteng, gagah, dan berusaha untuk tetap percaya diri. Sekitar pukul 08.15 acara akhat dimulai. Diawali dari mc yang memberikan waktu untuk Ustadz Johan memberikan taujih kepada kedua mempelai dan kami semua yang hadir. Nasihat-nasihat tentang mengarungi keluarga dan hakikat manusia diciptakan untuk berpasang-pasang. Dilanjutkan dengan tanyajawab antara bapak penghulu dan mempelai laki-lakinya. Inilah saat-saat yang menegangkan, karena kami semua yang ada di dalam mushola diam termenung dan dengan hikmat menyaksikan proses yang sangat bersejarah ini. Suasana hening pecah ketika semua orang bilang SAH, SAH, SAH.... Barakallah.

Dilanjutkan dengan penyerahan mahar dari Pak Nailul kepada Mbak Qory. Ini juga momen yang langka, karena notabene mereka berdua adalah ikhwah yang sudah pasti tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenis yang tidak mukrimnya. Nah untuk kali ini mereka berpegangan dan Mbak Qory menciun tangannya Pak Nailul. Huuuuu... terharu rekk. Tak lupa semua momen yang bersejarah ini saya abadikan lewat kamera digital biruku. Suasana semakin membara dan mantap ketika setelah penyerahan mahar saya menimpahi dengan teriakan TAKBIR dan diikuti dengan seluruh hadirin yang sebagian besar ikhwah. ALLAHUAKBAR. Selesailah untuk akhat nikahnya dan berarti beliau berdua sudah mukhrim dan sah menjadi sepasang pengantin muda. Pengen rekk.

Resepsi pernikahan

Tepat setelah akhat nikah dilanjutkan dengan seserahan dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan diikuti dengan rombongan keluarga laki-laki. Kursi mempelaipun sudah siap untuk menyambut kedua pasangan ini. Keluar dari rumah rias pak Nailul tampak makin guanten dengan pakaian resepsi yang berwarnya kuning emas, begitu juga dengan Mbak Qory yang makin cuantik dengan gaun muslimnya yang serasi dengan Pak Nailul. Berjalan di atas permadani merah mereka berdua menuju kursi mempelai. Sungkem antara kedua orang tua dari kedua mempelaipun berjalan hikmat. Dengan penuh penghayatan Pak Nailul dan Mbak Qory nencium tangan dari kedua orang tua mereka. Kemudian dilanjutkan taujih pernikahan dari Ustadz Sholeh. Dengan nasihat-nasihatnya yang kadang sedikit guyonan kepada pengantin membuat suasana semakin akrab yang awalnya kedua mempelai yang tampak tegang dan kaku, maklum rek baru pertama kali. (ya iya lah, masak mau yang kedua kali). Taujih pun berakhir dan ditutup oleh mc.

Kemudian dilanjutkan dengan penampilan nasyid dari Al Uswah voice yaitu merupakan murid-murid dari Pak Nailul yang membawakan lagu Neo Sholawat dan Anyta. Wah keren ni adik-adik Smp Al Uswah, ada generasinya ni di dunia nasyid. Heeeee... menemani hadirin yang sedang bersantap hidangan prasmanan yang disediakan nasyid La Tahzan dari teman-teman Surabaya tampil dengan membawakkan berbagai lagu islami dan lagu pernikahan untuk mengiringi pengantin yang sedang berfoto-foto dan untuk menghibur para undangan. Satu persatu para undangan berfoto sekaligus berpamitan dan rombongan ikhwan akhwat dari My Club pun bergantian berfoto dengan kedua mempelai. Kamerapun siap membidik, jepret, jepret, jepret. Kami pun memberikan ucapan dan merangkul Pak Nailul. Sekitar pukul 12.00 acarapun berhenti dan sekaligus berakhir karena azan dhuhur sudah berkumandang dan kamipun bergegas untuk pergi ke mushola yang tidak jauh dari tempat resepsi. Setelah sholat kamipun berpamitan dan sekali lagi memberikan ucapan selamat dengan sedikit haru. Barakallah Ustadz, semoga menjadi keluarga yang bisa membawa kebaikan di dunia dan bermuara di akhirat nanti. Kami akan menyusulmu ustadz, tunggu kami. He he he...

TAMAT

Selasa, 01 Maret 2011

Ketiduran Lewatkan Masa


KETIDURAN LEWATKAN MASA

Taufiqurrohman

Surabaya, 02 Maret 2011

Pagi hari yang cukup cerah, remang-remang mata terbuka tepat setelah jamaah subuh keluar dari surau. Masih kantuk terasa pada diriku yang terbawa dari aktifitas kemarin yang benar memakan tenaga dan pikiran yang ekstra. Mencoba untuk bangun dan beranjak dari keranjang kecilku, walaupun mata berat terbuka dan tubuh terasa tertindih batu besar sehingga berat sekali mengangkatnya. Sambil terseok-seok jalan, ku ambil air wudu untuk mengusir setan-setan yang menempel bagai kerak di tubuhku. Mulailah ku sholat berjamaah dengan rekan rumah yang lain. Hari ini memang jadwal kultum di kontraan yang tepat kelaksanakan setelah sholat subuh. Kultum yaitu agenda rutin kami satu minggu sekali, isinya seperti ceramah keagamaan yang disampaikan bergiliran. Sungguh sejuk sekali berkumpul dalam majelis yang insyaAllah diridhoi Allah SWT. Waktu itu temanya tentang muhasabah diri. Kerugian orang-orang yang semasa hidup didunia aktifitasnya digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat, bermaksiat, berpoya-poya, maka nerakalah jalan hidupnya. Dan sebaliknya orang-orang yang senantiasa mempergunakan hidupnya untuk aktifitas-aktifitas yang bernilai ibadah, bertakwa pada Allah SWT. Maka surgalah jalan hidupnya. Begitulah inti dari kultumnya.

Hari ini juga ternyata jadwal piket harian untuk bersih rumah dan masak. Padahal pagi-pagi betul setelah kultum aku ada agenda suro’. Ya terpaksa tidak ikut bantu teman memasak. Pukul 07.00 selesailah dan sampai rumah makanan sudah terhidang, ya bagianku untuk mencuci peralatan masak dan menyapu lantai atas. Selepas aktifitas dan makan pagi laptop kunyalakan. Tak terlewatkan lagu Ebiet G Ade kuperdengarkan untuk memcerahkan hari dengan tembang syair-syair yang berisi nasihat dan bahasanya puitis, (berbeda dengan musik-musik jaman sekarang kebanyakan memiliki unsur sastra pop yang kurang berisi dan tidak bernilai kontemplasi, hanya menghibur sesaat saja). Ternyata rasa kantukku justru terasa betul. Kurang lebih pukul 09.00 aku tidur dulu untuk mengembalikan tenagaku yang terkuras kemarin. Ternyata eh ternyata, aku ketiduran sampai waktu kuliahku termakan oleh ketidak sengajaan ku ini. Ku raba hp yang ada didekatku dan ada empat sms. Kemudian aku buka, dari salah satunya ada sms yang mengingatkanku bahwa kuliah sudah berlangsung dan ada dosennya. Padahal waktu itu pukul 12.00 tepat. Terpaksalah kurelakan kuliah teori sastraku. Tetapi aku nanti tetap ke kampus dan menemui dosen untuk memberitahu sejujurnya kenapa saya tidak datang kuliah. Entahlah beliau mau mengerti atau tidak, yang penting aku tidak bersalah karena yang namanya ketiduran itu fitrah manusia, bukan begitu kawan? Sampai-sampai empat sms masuk tidak terdengar dan membangunkanku, padahal hp berada di samping telingaku, ya namanya saja ketiduran. Sekali lagi, ya namanya saja ketiduran. Ya ketiduran membuat masa terlewat.

Ya semoga kawan yang sempat membaca kisahku ini bisa mengambil hikmah. Dan terkadang ketiduran itu nikmat, tetapi ketiduran itu celaka apabila berada di momen yang kurang tepat, contohnya seperti saya ini.

THE END

Minggu, 27 Februari 2011

Sajak Diam


SAJAK DIAM


terdiam dan berfikir

terdiam dan tersenyum

terdiam dan terjaga

terdiam dalam keteraturan

keteraturan memaknai sunyi

sunyi termakan oleh fikir yang terjaga oleh senyum

menyapa jiwa ramah dalam lembutnya sejuk.

(taufiq,25.02.11)

Sedikit Cerita Di Pulau Garam

SEDIKIT CERITA DI PULAU GARAM

Jumad, 28 Mei 2010, pukul 09.00 WIB


Kebersamaan Awal Kuliah

Kebersamaan memang terasa mengasikkan. Tentunya kita mempunya teman yang dekat dengan kita dan hal itu membuat kita nyaman untuk berbagi. Apa lagi membunyai teman yang memiliki hobi sama pastinya apapun aktifitas ingin dikerjakan bersama. Tidak cukup dengan mempunyai hobi yang sama, tentunya juga adanya rasa saling menghargai, menghormati dan tahu sifat masing-masing. Karena hakikatnya manusia memiliki sifat yang berbeda-beda dan itu harus disikapi dengan dewasa. Hal itulah yang melatarbelakangi keakraban dalam berteman.

Seperti pertemanan kami ini, berawal dari teman belajar di salah satu perguruan tinggi ternama di Surabaya, yaitu Unesa. Tepatnya teman satu kelas Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia. Empat semester sudah kita bersama dalam menuntut ilmu. Tentunya ada suka dan dukanya. Ada beberapa hal yang membuat kita semakin dekat dak akrab, yaitu dimanapun ketika bersama-sama pasti tak lupa diselipi guyonan-guyonan konyol khas asal kota masing-masing, ada yang khas Ngawi, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Gresik, Sidoarjo, Madura, Surabaya, dll. Ya walaupun kadang gak nyambung tak apalah yang penting bisa mengakrabkan kami.

Perjalanan ke Pulau Seberang

Pengalaman yang mengasikkan ketika kami mengadakan touring bersama. Kota pertama yang kami jelajahi adalah kota di pulau Madura. Tujuannya sih ingin observasi untuk tugas Fonologi, tapi ternyata sekalian berwisata mengunjungi tempat-tempat yang sekiranya khas didaerah itu. Sekitar pukul 09.00 pagi tanggal 28 Mei 2010 hari jumat rombongan berangkat dari Surabaya. Ditengah perjalanan masih di Surabaya rombongan sudah terpecah, biang keroknya adalah Husain Asegaf yang memiliki panggilan sayang Gaf-gaf. He he he.... Padahal sebelum berangkat semua sudah berdiskusi tentang rute yang akan dilalui. Kesalahannya Husain ragu ketika berada di pertigaan PTC, seharusnya rutenya perempatan lurus, tetapi Husain memaksa dan dengan PDnya belok kanan. Setelah beberapa meter kedepan terpaksa rombongan menepi dan mencoba menghubungi teman yang tersesat dengan harapan agar cepat kembali kejalan yang benar. Cukup lama juga menunggu mereka, sudah hampir 30 menit bercakap di pinggir jalan, akhirnya mereka diundal (balik arah untuk mencari). Dan tak lama kemudian pihak yang tersesat datang dengan muka santai seperti slogannya santai wae. Waktu itu juga kami bersiap untuk berangkat kembali menuju pulau di seberang kota pahlawan ini. Dengan rombongan kami menikmati setiap momen dalam perjalanan. Ada enam montor dalam rombongan kami. Sedikit ngebut (mengendara dengan cepat) karena waktu sedikit molor dari perhitungan awal. Tetapi ketika melalui jembatan terpanjang se Asia Tenggara ini kami menikmatinya maunya sih berhenti ditengah untuk berfoto bersama, tetapi berhubung waktu dan takut kena tilang juga karena peraturan dalam melalui jembatan ini tidak boleh berhenti sepanjang jembatan. Tetapi tak apalah walaupun begitu kita tetap bangga karena merasa memiliki juga jembatan Suramadu ini, sempat terpercik rasa kagum oleh keindahannya. Ya semoga tidak ada lagi tangan-tangan jahil yang iseng untuk mencabuti mur, baut, dan besi jembatan. Gak bisa terbayangkan kalau Jembatan Suramadu roboh karena besi-besinya dicuri.

Kembali ke topik cerita. Kira-kira 30 menit melalui jembatan Suramadu akhirnya kami menginjakkan kaki di pulau yang mendapat julukan pulau garam ini. Jalan setelah jembatan hanyalah lurus panjang. Dan itu dimanfaatkan teman-teman untuk adu kecepatan, kenapa kami berani, karena jalanan sangat mengang sekali. Jadi untuk menghemat waktu juga kami memacu montor dengan kencang. Sampai di pertigaan Bangakalan kalau belok kiri ke kota Bangkatan kalau belok kanan ke kota Sampang dan tentunya kami belok kanan. Setelah pertigaan Bangkalan laju montor yang kami kendarai melaju dengan kecepatan kencang sekitar 80 km keatas. Sepanjang perjalanan menuju Sampang ada fenomena aneh yang saya tangkap dan yang tidak ada di daerah kami. Yaitu kebiasaan warga Madura yang sering meninta sumbangan. Jadi hampir disetiap mushola atau masjid yang dekat dengan jalan warga membuat pos dan disitu bergerombol orang ada yang berbicara lewat spiker tentunya dengan logat maduranya yang intinya meminta sedikit materi untuk sumbangan membangun masjid katanya, ada yang membawa wadah berjejer di sepanjang jalan dekat masjid untuk menampung uang dari para pengguna jalan yang ingin menyumbang, ramailah pokoknya. Melihat yang kelompok pertama sih wajar, tetapi setelah bebarapa menit kemudian didepan banyak ternyata dan itu menurut saya sangat mengganggu pengguna jalan. Karena mereka berdiri agak ketengah jalan sambil mengulurkan wadah, takutnya kalau tertabrak. Tapi ya itulah kebiasaan bagi mereka dan mungkin sudah menjadi budaya. Di Surabaya juga banyak para pencari sumbangan dari rumah kerumah dan kebanyakan dari Madura itu pun setelah aku tanyain asalnya (bukan bermaksud untuk menghina lo kawan). Ya inilah keragaman Indonesia, yang penting rukun-rukun saja lah. Dan satu lagi, jalan di Madura ini aspalnya pun sedikit berbeda yaitu berwarna hitam dengan bintik putih. Ternyata pasirnya itu memang putih. (ya ini sepengetahuanku saja, gak tahu kalau didaerah lain ada yang sama).

Sampai di Kota Sampang

Sekitar pukul 11.00 akhirnya sampai di Sampanag. Kami sengaja ingin menginap di rumahnya Anas. Dengan sambutan keluarganya Anas yang hangat kami pun beristirahat sejenak untuk menghapus peluh setelah dua jam perjalanan dari Surabaya. Dengan hidangan khas Sampang krupuk tela yang ditutulkan pada sambal pedas manis dengan dditemani segelas teh, mantap rasanya. Setelah 30 menit beristirahat kamipun beranjak untuk pergi sholat jumat karena hati itu hari Jumat. Kami diajak anas ke salah satu masjid yang bersejarah. Dan menurutku masjit itu unik, karena pertama, masjid itu merada di tengah komplek pemakaman, dan itu merupakan komplek pemakaman sesepuh desa dan makam Ratu Ibu. Jadi setelah sholat para jamaah menyempatkan diri untuk berziarah kubur. Kedua, masjid itu didalamnya memiliki empat tiang penyangga yang tiangnya itu umumnya lurus, tetapi ini ke empat tiangnya miring semua, tetapi masih kuat menyangga. Subhanallah, ucapku. Ketiga, kutbahnya memakai bahasa arab semuanya. Setelah selesai sholat kamipin menyempatkan diri berziarah dengan dipimpin doa oleh pak Zain (salah satu rombongan kami). Bersamaan dengan perjalanan pulang kami berhenti sejenak mengunjungi petilasan dengan keajaiban dalam satu tempat terdapat tujuh sumur dan menemukan keunikan-keunikan lainnya. Dari tempai itu kita beranjak kembali kerumah. Selain itu kami juga mengunjungi pantai Sampang di sore hari, malamnya ke alon-alon Sampang sambil ngopi dan bercakap. Paginya berkunjung ke Goa Lebar Trunojoyo yang didalamnya ada patung raksasa mirip manusia dengan tubuh hijau yang besar dan tak lupa berfoto ria. Kami juga mengunjungi pemandian dari sumber mata air yang selalu ramai dengan warga yang beraktifitas memanfaatkan sumber air tersebut. Tak lupa kami ke Pemakasan untuk melihat api abadi, yaitu api yang muncul dari tanah dan tak kan padam, entah sampai kapan. Api itu dimanfaatkan warga untuk memasak, membakar jagung dan sebagainya. Seharian penuh berkunjung ke kota Sampang dan Pamekasan.

Itulah sedikit cerita tentang touring ke Madura. Sedikit cerita tentang kebersamaan kami. Semoga bertemu kembali di lain waktu dengan agenda bersama yang lebih mengasikkan lagi. Sedetik waktu terlewat, tidak akan pernah bisa kembali. Maka jangan sia-siakan waktu yang kita miliki. Ok kawan, sampai jumpa di cerita berikutnya.

Bersambung